budi prakoso

Energi Kintani

tinggalkan komentar »

Begitu membuka dokumentasi foto, ternyata banyak juga hasil jepretan Kintani selama ini. Dari berbagai kesempatan, foto-foto itu terlalu sayang kalau terus tersimpan dalam sebuah file. Yah, itung – itung meletakan jejak di dunia maya, akhirnya diputuskan untuk diposting lagi….

Ini dia :

17 kurang 13 Taon

sumringah terussss.....

Kapten Tim Kesebelasan

Kalau bete, tetap ga bisa dimanipulasi, apalagi usia seperti kintan

Udah Mulai Betenya.....

Sumber yang bikin energik.....ngedot.....

closing statmen

:)

Ditulis oleh putratunggal

April 15, 2011 pada 10:14 am

Ditulis dalam waktu luang

Pak Kiki: Mencari Uang Halal, Di Tempat Yang Kotor

dengan 8 komentar

Pak Kiki (61) adalah petani ikan yang sudah bergelut di budidaya ikan hias hampir 25 tahun. Di lahan seluas 1.700 meter persegi, Pak Kiki dan kelurga membuat kolam ikan hias. Jumlahnya sekitar 63 bak ikan yang terdiri atas berbagai ukuran.

Aktivitas Pak Kiki Di Kolam Ikan

Sebagai petani (budidaya) ikan hias, kehidupan pak Kiki tergolong biasa saja. Walau memiliki jumlah ikan ribuan, tapi kadang menurut pria asal Kebumen Jawa Tengah ini, masih sering kewalahan menghadapi permintaan.

Selepas subuh pak Kiki berangkat mencari pakan berupa kutu air yang terdapat di sejumlah empang di kampungnya. Kutu – kutu air itu selalu bersarang pada tempat atau pembuang air yang kotor. Tidak jarang kalau sedang langka, pak Kiki sering berendam mencari kutu air untuk makanan beruyak (ikan kecil hasil penetasan). “Walaupun kotor, tapi sudah dua puluh lima tahun saya berteman dengan empang. Ikan kecil belum bisa makan cacing. Kan mulutnya lebih kecil ketimbang ukuran cacing,” tukas pak Kiki. Kutu air, menurut pak Kiki adalah jenis makanan terbaik bagi perawatan ikan hias.

Umumnya ikan – ikan hias yang di cetak pak Kiki, selalu diekspor ke beberapa negara seperti Eropa, Jepang, Singapura dan Amerika. “Ikan – ikan saya jalannya lebih jauh dari saya, mereka sudah banyak yang sampai ke luar negri, tapi sampai hari ini saja, saya  malah belum pernah merasakan enaknya naik pesawat terbang,”   katanya berseloroh.

Ikan hias yang diproduksi Pak Kiki ternyata banyak jenisnya, dari mulai Blue Eye, Green Tiger, Manfish, Maskoki, Cupang dan lainnya. Menurut pak Kiki, nama – nama ikan itu lebih familiar di Indonesia, karena kalau menyebut dalam nama Latin, agak sulit di lafalkan.

Manfish, Pasarnya Ekpor dan Lokal

Dari budidaya itulah, pak Kiki mampu memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Meskipun sebenarnya juga ada senandung keluhan petani ikan. Konon menurut ayah beranak 3 itu, di bisnis ikan hias, bagaimanapun pemodal jauh lebih untung ketimbang petani. Nasib Petani selalu tidak seberuntung pemasoknya.

Sekedar Contoh, ikan jenis Blue eye, untuk ukuran M (1,8cm) berumur  satu bulan hanya dihargai 150 perak perekor. Padahal pemasok bisa menjual seharga Rp 200 samapi Rp 250 perak per ekor. Ikan jenis ini memang sekali kirim bisa mencapai ribuan untuk satu petani (Meski masuk komoditas ekspor, namun petani di Kampung Rawa Lele Pondok Gede Bekasi sering menyebutnya sebagai ikan kiriman). Bahkan meski ikan tergolong langka di tingkat petani, tapi hargapun tetap dikendalikan oleh pemasok dan eksportir. “bayangkan saja, pemasok yang tidak memiliki kolam ikan, sudah punya untung Rp 50 samapi Rp 100 perak. Kalau dikalikan 10 ribu ekor, kan hasilnya sudah banyak. Padahal, pemasok selain tidak memiliki kolam ikan, Ia juga tidak terbebani biaya pakan,” tukas pak Kiki bernada tinggi. Di tangan Pemasok biasanya ikan hanya mampir selama 2 sampai 3 hari, selanjutnya ikan dikirim ke eksportir. Kalau sudah di packaging dengan kantong – kantong ikan, dan diberi oksigen, ikan bisa tahan selama 3 hari tanpa harus dipindah tempat.

Butuh Dukungan Pemerintah

Meski terbukti sebagai salah satu komoditas andalan, bahkan menjadi sumber ekonomi masyarakat setempat sejak puluhan tahun. Pak Kiki belum pernah merasakan pembinaan dan dukungan finasial dari lembaga – lemabag terkait. Petani ikan hias di daerahnya memang jauh dari radar pembinaan.

Kolam Pak Kiki, Sempat digunakan Untuk Syuting

Sejak puluhan tahun lalu, pasar ikan hias ekspor tergolong besar. Indonesia.go.id merekam angka 10 juta dolar amerika untuk tahun 2009. Indonesia, ternyata hanya menyumbang 7,5% dari nilai ekpor ikan hias dunia. Bandingkan dengan Singapura yang menikmati 22,5% pasar ekspor. Padahal Negara itu kurang memiliki sumber daya ikan hias.

Sejak puluhan tahun lalu, di Kampung Pak Kiki terkenal sebagai sentra pensupalay ikan hias ekspor. Bahkan beberapa jenis ikan terpaksa jarang sekali dapat memenuhi permintaan karena seretnya produksi.

Umumnya kendala produksi menurut Pak Kiki lebih di sebabkan faktor ekonomi para petani. “Bahkan sampai ada yang menjual biang, untuk kehidupan sehari – hari. Bagaimana bisa hidup kalau tukang ojeg malah menjual motornya,” tutur pak Kiki.

Selain budidaya, mengelola bisnis ikan hias juga masih bisa dilakukan dengan cara pembesaran. Biasanya para petani sangat tahu jenis ikan yang sering menjadi permintaan pasar. Untuk meningkakan pendapatan, para petani yang belum memiliki ikan siap jual, melakukan pendekatan bisnis dengan cara menampung bibit untuk pembesaran. “Istilahnya beli beruyak, dan dibesarkan sampai ukuran siap jual,”  tukas Pak Kiki.

Model ini juga tergolong positif. Terbukti banyak petani menengah (pemilik modal) mampu membesarkan bisnisnya. Bahkan  dari cari seperti itu,  ada  yang sudah punya akses langsung ke eksportir atau buyers di luar negri. “Tapi itu kan bagi yang punya modal, bagi yang tidak, ya sudah, seperti ini saja. Punya uang kalau panen !”  katanya.

Ditulis oleh putratunggal

Mei 23, 2010 pada 8:02 am

Ditulis dalam waktu luang

Moment baik tidak terlalu jauh

tinggalkan komentar »

Bengong di depan teras. Terasa ada yang mendorong untuk menenteng kamera. Tidak terlalu jauh mengabadikan moment – moment seperti ini. Cuma dari teras rumah !

Hanya perlu bergeser sedkit, agar sudut pandang lebih optimal.

Kilatan petir menggoda untuk ku abadkan. Tapi nanti dulu, dari mana datangnya petir. Ternyata rata – rata tepat di depan rumah. Dari 50 jepretan dua yang berhasil terekam. Memootret petir, shuter bergantung dari objek.

50 Jepretan, satu yang berhasil. Sabar...!

Aku senang dengan menara masjid tempat biasa aku sholat Jum’at. Bangunan sederhana peninggalan warga Kampoeng ku, ternyata di bangun atas partisipasi warga sekitar. Alhamdulillah, Masjid ini sedikit demi sedikit di bangun tanpa harus berkeliling menjajakan sumbangan, atau menunggu partisiapsi jamaah yang lewat di tepi jalan.

Menara Majid Nurul Ibadah, berharap bisa direnovasi tahun ini

Ditulis oleh putratunggal

Februari 26, 2010 pada 6:28 am

Ditulis dalam waktu luang

merekam wajah kintan

dengan 2 komentar

Tidak terlalu sulit, mengarahkan Kintan agar posenya bisa enak dilihat. Dengan beberapa instruksi, tubuh mungil itu mengikuti gerakan tangan sang ayah di balik rana bidik. Kadang tidak secara langsung, jepretan kamera spontan terjadi, saat gerak – geriknya yang memang perlu didokumentasikan. Meski usianya baru beranjak 2 tahunan, namun karakternya yang centil tapi pemalu, selalu berhasil ku abadikan.

too many action

Beberapa moment yang sedikit lebih over pada usianya, sangat sulit untuk diulang dua kali. Tapi biarlah,  bagaimanapun lekuk wajah itu, selalu saja enak untuk di foto. Moment yang cukup dewasa namun punya karakter.

Kali ini ku perintahkan agar tangannya bersandar pada pohon besar. Aku tidak berhasil waktu ku instruksikan agar kedua tangannya di tumpu ke atas, seraya kepala mungilnya disenderkan. Sejadi – jadinya, mata ku tak lepas dari bidikan. Sesaat kemudian, jepret ! jadilah wajah polos dengan seringai mata memancarkan ketajaman.

image

Permainan gerak tubuh dan arah tatapan mata. Mundur dari pohon bungkukkan badan sambil menjatuhkan ke dua tangan. Nih dia :

Meski belum mandi, tapi cukup enak juga, wajah bulat itu ku ambil secara close up. Jam tiga sore, 30 menit selepas bobo siang, menyeriangai karena undangan canda kakaknya. Jadilah seperti ini.

Kali  ini tampil dengan property tambahan. Aku menerka – nerka. Bagaimana kalau setingannya menggunakan kerudung atau jilbab. Banyak orang bilang, wajahnya mirip ibunya, ku coba dekatkan dengan kesamaan property. Hasilnya : dengan jilbab semakin bulat.

Capek sesi sesi pemotretan

Ditulis oleh putratunggal

Februari 25, 2010 pada 7:41 pm

Ditulis dalam waktu luang

Kenapa Harus Sumur ?

tinggalkan komentar »

Sepeda motor  ku lajukan dengan kecepatan rendah, supaya anak ku Putra yang dibonceng terdepan sedikit nyaman. Sesekali tali pengaman helmnya menyapu leher ku. Agar meresa lebih enak lagi, kakaknya Kintan ini, merebahkan kepalanya, tepat diatas setang motor, menutupi indikator spedo meter. Kalaupun pada akhirnya putra tertidur. Maka aku jamin, pasti cukup aman, karena ku apit dengan tangan yang membentang ke sisi – sisi setir motor.

Aku memang berniat siang ini memanfaatkan waktu khusus untuk Putra. Senin lalu kujanjikan bahwa kita akan sedikit tour kecil ke Monumen Pancasila – Lubang Buaya. Lokasi yang setiap hari ku lewati jika hendak berngkat kerja, ternyata tidak seperti tampak luarnya, yang penuh dengan deretan tukang ojek. Meski kemacetan, seperti menjadi bagian dari perjalanan, ku pastikan, wisata jarak pendek ini, di buat senyaman mungkin. Karena aku memang sengaja memilihnya di hari biasa, alias bukan hari libur.

Membayar retribusi 5.000 perak, aku, Putra dan sepeda motor, sudah bisa masuk ke dalam komplek yang asri. Kepenatan atas perjalanan yang macet sekejap saja hilang, dengan suguhan deretan pohon akasia yang pinggir jalan saat memasuki halaman museum.

Di ujung jalan, deretan motor terpakir seakan menjadi navigasi, menghentikan motor ku. Ku tawarkan kepada anak ku. Kita mulai dari mana ? Putra lebih memilih Sumur Maut. Memang setidaknya ada dua lokasi utama objek studi tersebut. Satu Museum, di mana rangkaian sejarah pemberontakan dan aksi PKI tergambarkan melalui media atraktif patung – patung miniatur.

Agak sulit memang memberikan penjelasan setiap si sulung bertanya. Misalnya, Kenapa Koq kelihatan sadis sekali Yah ? atau kenapa justru sesama kita harus berkelahi ? dengan cara ku sendiri, ku berikan jawaban. Bahwa semua proses terhadap perjuangan itu, selalu dengan pengorbanan yang besar. Jarang ada yang secara gratis bisa mendapatkannya. Sesekali ku doktrin Ia agar terus menghormati para pahlawan pejuang bangsanya.

Destinasi lama ketika anak ku terpaku pada sebuah sumur maut. Dengan diameter sumur yang berkisar 1 meter, dimensi keramat semakin tajam, manakala dari bawah sumur tersembur sebuah cahaya berwarna merah tua. Seakan memberi penjelasan, sumur yang menjadi saksi masuknya para tubuh jenderal, seperti bersimbah darah. Tak tampak kengerian dalam raut muka Putra. Sambil membaca himbauan di bibir sumur, DILARANG MEMBUANG BENDA APAPUN KE DALAM SUMUR, pertanyaan polos meluncur dari bibir mungilnya. “yah, apakah masih ada airnya?”

Harafiah sumur dijabarkan Putra sebagi tempat berkumpulnya air. Tidak salah ! “sejak dulu sumur itu sudah tidak lagi aktif. Bahkan sumur sempat ditutupi pohon pisang, sebagi kamuflase para pemberontak, menghilangkan jejak TNI, guna mencari mayat korban keganasan mereka.” Begitu tukas ku panjang lebar, berharap Putra memahami jawaban ku “Tapi kenapa harus sumur Yah. Kan sayang airnya ?” Yang ini aku bingung menjawabnya !

Ditulis oleh putratunggal

Februari 25, 2010 pada 3:26 pm

Ditulis dalam waktu luang

Hello world!

dengan satu komentar

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Ditulis oleh putratunggal

November 14, 2009 pada 3:14 am

Ditulis dalam Uncategorized

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.